Dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/01/15/bisa-terjerumus-sekulerisme/ kami sampaikan bahwa menolak adanya bid'ah hasanah bisa terjerumus paham sekulerisme
Solusi penangkal paham sekulerisme atau solusi penangkal paham
SEPILIS (sekulerisme, pluralisme, liberalisme) secara umum adalah
dengan pemahaman akan adanya bid'ah hasanah sebagaimana yang
disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat, pemimpin atau imam ijtihad
kaum muslim pada umumnya (Imam Mujtahid Mutlak) yang bertalaqqi
(mengaji) langsung dengan Salafush Sholeh.
Dengan kesadaran adanya bid'ah hasanah maka setiap kita akan
melakukan perbuatan atau mencontohkan perbuatan yang tidak pernah
dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka kita akan
merujuk kepada Al Qur'an dan As Sunnah.
Jika perbuatan tersebut bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk bid'ah dholalah
Jika perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk bid'ah hasanah
Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “Apa yang baru terjadi dan
menyalahi kitab al Quran atau sunnah Rasul atau ijma’ atau ucapan
sahabat, maka hal itu adalah bid’ah yang dhalalah. Dan apa yang baru
terjadi dari kebaikan dan tidak menyalahi sedikitpun dari hal
tersebut, maka hal itu adalah bid’ah mahmudah (terpuji)”
Imam Syafi’i ~rahimahullah berkata “Perkara-perkara yang baru (al
muhdats) terbagi dua, Pertama : perkara baru yang bertentangan dengan
kitab, sunnah, atsar para sahabat dan ijma’, ini adalah bid’ah
dlalalah, kedua: perkara baru yang baik dan tidak bertentangan dengan
salah satu dari hal-hal di atas, maka ini adalah perkara baru yang
tidak tercela” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Baihaqi dalam kitabnya
“Manaqib asy-Syafi’i”, Juz I, h. 469)
Pemahaman yang memisahkan bid'ah kedalam urusan agama dan bid'ah
secara bahasa atau bid'ah urusan dunia adalah bentuk keterjermusan
kedalam paham Sekulerisme , paham yang memisahkan urusan dunia dan
urusan agama (urusan akhirat).
Firman Allah Azza wa Jalla, alyawma akmaltu lakum diinakum, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu” (QS Al Maaidah [5]:3)
Islam itu din yang sempurna, tercakup di dalamnya semua aspek
kehidupan di dunia untuk kebahagiaan di akhirat. Aspek-aspek itu
antara lain kehidupan berpolitik, bermasyarakat, bernegara,
bermuamalah dan sebagainya
Apakah sikap dan perbuatan yang termasuk urusan dunia boleh bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah ?
Setiap sikap dan perbuatan manusia urusan dunia maupun urusan
akhirat harus tetap merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan
menetapkannya dalam hukum taklifi yang lima (haram, makruh, wajib,
sunnah, dan mubah). Perbuatan merujuk dengan Al Qur’an dan As Sunnah
termasuk dzikrullah (mengingat Allah).
Jadi urusan dunia adalah ibadah juga. Jika urusan dunia tersebut
bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka termasuk amal
keburukan (sayyiah) dan jika urusan dunia tersebut tidak bertentangan
dengan Al Qur'an dan As Sunnah maka termasuk amal kebaikan.
Urusan dunia yang tidak bertentangan dengan Al Qur'an dan As Sunnah
dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah maka termasuk juga ke dalam
bid'ah hasanah
Paham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme) diusung oleh kaum Zionis Yahudi. Hal ini telah diuraikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/01/18/sekularisme-pluralisme-dan-liberalisme/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/01/26/kekeliruan-pluralisme/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/02/03/penghambaan-sesama-manusia/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/02/23/bahaya-laten/
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/25/2010/01/13/dibalik-krisis/
Allah Azza wa Jalla menciptakan kaum Yahudi sebagaimana yang dikehendakiNya
Kaum Yahudi dan kaum musyrik, termasuk yang terjerumus kemusyrikan,
terjerumus dalam kekufuran yang disebabkan oleh berbagai macam sebab,
mereka mempunyai rasa permusuhan terhadap manusia yang telah
bersyahadat
Firman Allah ta’ala yang artinya, “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” ( QS Al Maaidah [5]: 82 )
Kita dapat menyaksikan bagaimana paham SEPILIS (Sekulerisme,
Pluralisme, Liberalisme) mulai merasuk kedalam perguruan-perguran
tinggi Islam di negeri kita seperti yang dulu bernama IAIN. Juga ke
dalam universitas Islam di wilayah kerajaan dinasti Saudi tentu
dengan cara-cara yang lebih halus dan terarah.
Kaum Zionis Yahudi tentu juga berupaya memasukkan paham SEPILIS
(Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme) ke dalam organisasi-organisasi
masyarakat seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah dll
Begitu juga kaum Zionis Yahudi berupaya memasukkan paham SEPILIS
(Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme) ke dalam sistem pemerintahan
seluruh negara di dunia ini. Termasuk ke dalam pemerintahan kerajaan
dinasti Saudi. Pemerintahan kerajaan dinasti Saudi walaupun mereka
berupaya memerintah berlandaskan syariat Islam namun tidak sepenuhnya
berlandaskan syariat Islam. Sistem pemerintahan yang mereka terapkan
adalah Monarki (kerajaan) . Mereka katakan bahwa mereka mengikuti
khalifah Muawiyyah.
Khalifah Muawiiyah ketika itu bermaksud meniru suksesi kepemimpinan
yang ada di Persia dan Bizantium, yaitu Monarki (kerajaan). Akan
tetapi, gelar pemimpin pusat tidak di sebut raja (malik),
mereka tetap menggunakan gelar khalifah dengan makna konotatif yang di
perbaharui. Langkah awal dalam rangka memperlancar pengankat Yazid
sebagai penggantinya adalah menjadikan Yaizid Ibn Muawiyyah sebagi
putra mahkota (tahun 53 H).
Penunjukkan Yazid sebagai putra mahkota telah melahirkan reaksi
dari masyrakat. Proses terjadi dimasyarakat karena Muawiyyah telah
mengubah sistem suksesi peminpin; di samping itu, pengangkatan Yazid
sebagai pengganti Muawiyyah berarti telah terjadi pelanggaran
perjanjian antara Muawiyyah dengan Hasan Ibn Ali ra .
Ketika Yazid naik tahta, sejumlah tokoh terkemuka di Madinah
menolak melakukan bai’at. Akan tetapi, Muawiyyah berhasil memaksa
mereka untuk melakukan bai’at. Dua tokoh yang tidak berhasil dipaksa
melakukan bai’at adalah Husain Ibn Ali dan Abd Allah Ibn Zuabair. Apa
yang dilakukan dan dicontohkan oleh Muawiyyah membentuk kepemimpinan
pemerintahan dengan sistem kerajaan meniru peradaban Persia dan
Bizantium pada hakikatnya adalah perkara baru (bid’ah).
Rasulullah bersabda : “Tidak boleh bagi tiga orang berada
dimanapun di bumi ini, tanpa mengambil salah seorang diantara mereka
sebagai amir (pemimpin) ”
Sungguh, dianggap (penisbatan) berkhianat kepada Allah , Rasul-Nya
dan kaum mukminin, merupakan ancaman keras bagi siapapun yang tidak
bertanggung jawab dalam memilih pemimpin, sebagaimana sabda Rasulullah
yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Barangsiapa memilih
seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu
ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia
telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang
beriman.” (HR. Hakim)
Dalam sejarah Islam kita kenal adanya ahlu a-halli wa al-‘aqdi yang
merupakan demokrasi berdasarkan perwakilan yang berkompetensi dan
terpercaya. Ketetapan/fatwa/kebijaksanaan diambil dengan
permusyawaratan / perwakilan.
Musyawarah untuk mufakat sistem perwakilan yang berkompetensi dan
terpercaya atau ahlu a-halli wa al-‘aqdi telah dicontohkan oleh para
Khulafaur Rasyidin dalam menetapkan khalifah pertama setelah wafatnya
Sayyidina Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Begitupula , pemerintahan kerajaan dinasti Saudi dan pemerintahan
beberapa negara lainnya yang dipimpin oleh penguasa negara yang
beragama Islam menjadikan kaum kafir sebagai teman kepercayaan,
penasehat, pelindung dan pemimpin.
Firman Allah Azza wa Jalla,
“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum
yang dimurkai Allah sebagai teman? Orang-orang itu bukan dari
golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka
bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui“. (QS Al Mujaadilah [58]:14 )
“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir
menjadi wali (pemimpin) dan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang
siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah…” (Qs. Ali-Imran : 28)
“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada
Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang
menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak,
atau anak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.” (Qs. Al Mujadilah : 22)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi
teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena)
mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka
menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut
mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar
lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika
kamu memahaminya” , (QS Ali Imran, 118)
“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak
menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila
mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila
mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur
benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena
kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati“. (QS Ali Imran, 119)
Sikap para ulama yang menyerahkan "urusan dunia" secara bulat-bulat
kepada penguasa negeri adalah bentuk keterjerumusan kedalam paham
sekulerisme.
Begitu pula dengan paham pluralisme boleh jadi telah masuk kedalam pemerintahan dinasti kerajaan Saudi Perhatikan video pada http://www.youtube.com/watch?v=48kUEx9iGk8
Berikut transkript subtitle yang kami dapatkan dari melihat video tersebut.
***** awal transkript subtitle *****
Adapun langkah yang berbahaya adalah apa yang dilakukan Raja
Abdulloh yang meminta untuk mendekatkan berbagai agama dan menyetujui
suatu agama yang diridhoi oleh PBB dan dianut oleh seluruh bangsa.
Raja Abdullah:
”Saya meminta kepada seluruh agama yang turun dari langit” (samawi)
”Untuk berkumpul dengan saudara-saudara mereka dalam satu iman dan
ketaatan kepada seluruh agama, karena kita menghadap kepada satu Tuhan”
”Saya pernah berpikiran untuk mengunjungi Vatican, dan sayapun telah mengunjunginya”
”Sayapun bertemu dengan Paus dan saya berterima kasih padanya”
”Saya berterima kasih (karena) dia menemui saya”
”Saya tidak akan melupakan pertemuan seorang manusia dengan seorang manusia”
”dan ketika itu aku tawarkan ide ini kepadanya yaitu untuk menghadap kepada Tuhan ~ Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~”
”Menghadap kepada Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Mulia, dalam apa yang
Dia perintahkan dalam agama-agama yang turun dari langit dalam
Taurat, Injil dan Al Qur’an”
”Kita meminta kepada Tuhan Yang Maha Mulia lagi Perkasa agar memberi petunjuk pada kita semua”
”Semua agama-agama ini kepada satu kalimat yang diperintahkan oleh
Tuhan ~Yang Maha Perkasa lagi Mulia ~ untuk dilaksanakan oleh manusia”
”Insyaallah dalam waktu sedekat mungkin, dan ketika kita berkumpul
dan telah disetujui, Insyaallah, semuanya dalam kebaikan ~ semua
agama”
”Saya akan pergi ke PBB, Saya juga yakin hingga orang yang beriman dengan Abrahamisme”
”Saya juga menginginkan mereka …. tapi ketiganya ini wajib bagi
mereka Taurat, Injil dan Al-Qur’an dan selebihnya Insyaallah semuanya
baik”
”Pada mereka ada kebaikan, karena kemanusiaan mereka juga bagus”
”karena moral mereka juga bagus dan karena negara mereka juga bagus dan karena semuanya adalah keluarga”
Sungguh keluarga Saudi telah memulai ~dalam kemurtadan yang jelas ~
mepersiapkan sebuah agama baru , dan itu dilakukan dengan beberapa
langkah. Yang pertama adalah konferensi Makkah yang terakhir yang
mengumpulkan beberapa kelompok sesat dan menyimpang dari hukum Allah
untuk menyetujui agama yang baru. Sebagaimana pada fase berikutnya
ditawarkan kepada Yahudi, Nasrani dan Budha di konferensi Spanyol dengan
munculnya sebuah agama yang disetujui oleh PBB dan agar bisa diterima
oleh semuanya. Padahal cukuplah Allah bagi kita, dan (Dia lah)
sebaik-baiknya Pelindung.
***** akhir transkript subtitle *****
Paham pluralisme merasuk kedalam kaum muslim dengan menyalahgunakan firman Allah ta'ala yang artinya,
"Sesungguhnya orang-orang mu'min, orang-orang Yahudi,
orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara
mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan
beramal sholeh , mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak
ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih
hati." (QS Al Baqarah [2]: 62)
Makna firman Allah ta'ala tersebut adalah
Kaum Yahudi pada zaman Nabi Musa a.s yang mentaati syariat yang dibawa oleh Nabinya dan beramal sholeh akan masuk surga
Kaum Nasrani pada zaman Nabi Isa a.s yang mentaati syariat yang dibawa oleh Nabinya dan beramal sholeh akan masuk surga
Kaum Shabiin , orang-orang yang mengikuti syari'at Nabi-nabi zaman dahulu dan beramal sholeh akan masuk surga
Namun setelah syariat disempurnakan ketika Rasulullah di utus maka
semua manusia wajib mengikuti syariat yang dibawa oleh Rasulullah.
Jika manusia mentaati syariat yang dibawa oleh Rasulullah dan
beramal sholeh niscaya masuk surga, telah diuraikan dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/12/29/masuk-surga/
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “ Demi Allah,
yang diriku ada dalam genggaman tanganNya, tidaklah mendengar dari hal
aku ini seseorangpun dari ummat sekarang ini, Yahudi, dan tidak pula
Nasrani, kemudian tidak mereka mau beriman kepadaku, melainkan
masuklah dia ke dalam neraka.”
Hadits yang diriwayatkan Sufyan bin Uyainah dengan sanadnya dari
Adi bin Hatim. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata,
“Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam tentang
orang-orang yang dimurkai“, beliau bersabda, ‘Kaum Yahudi.’ Saya
bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, “Kaum
Nasrani.“
Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani kalau mereka benar-benar mengikuti
syariat yang di bawa Nabi mereka maka mereka pasti telah disampaikan
akan kedatangan Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah yang terakhir
Firman Allah ta’ala yang artinya,
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab
(Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal
anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka
menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” ( QS Al Baqarah [2]:146 )
“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan
bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah
penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih
mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah [2]:140 )
“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para
nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan
hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang
ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan
menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima
perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab: “Kami
mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi)
dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu“. ( QS Ali Imran [3]:81 )
Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw. berkata: ‘Setiap kali Allah
subhanahu wa ta’ala mengutus seorang nabi, mulai dari Nabi Adam sampai
seterusnya, maka kepada nabi-nabi itu Allah subhanahu wa ta’ala
menuntut janji setia mereka bahwa jika nanti Rasulallah shallallahu
alaihi wasallam. diutus, mereka akan beriman padanya, membelanya dan
mengambil janji setia dari kaumnya untuk melakukan hal yang sama’.
Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Dan Ibrahim telah
mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub.
(Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih
agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama
Islam“. (QS Al Baqarah [2]: 132 )
“illa wa antum muslimuun”, “kecuali dalam keadaan muslim” , “kecuali
dalam keadaan memeluk agama Islam”, kecuali manusia yang berserah
diri kepada Allah Azza wa Jalla, berserah diri dengan mentaati
perintahNya dan laranganNya.
PerintahNya dan laranganNya telah disempurnakan ketika Muhammad bin Abdullah diutus menjadi Rasulullah.
Firman Allah Azza wa Jalla yang artinya, “Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” ( QS Al Maaidah [5]:3 )
Jadi penduduk surga pastilah seorang muslim, mereka yang telah
bersyahadat. Jika kaum non muslim benar-benar bertauhid atau
berkeyakinan bahwa tiada tuhan selain Allah maka mereka akan mentaati
tuhannya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam untuk bersyahadat
atau memeluk agama Islam jika tidak maka mereka termasuk kaum kafir.
Hakikat kafir atau menyekutukan Allah atau mereka yang melakukan
perbuatan syirik adalah mereka yang tidak mengakui ke -Maha Kuasa – an
Allah Azza wa Jalla
Iblis dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla karena mereka tidak
mengakui ke -Maha Kuasa -an Allah Azza wa Jalla dengan tidak mentaati
kewajibanNya berupa perintah untuk sujud kepada manusia (Nabi Adam
a.s).
Orang Islam yang bersujud (sholat) menghadap Ka’bah, tidak berarti
dia menyembah Ka’bah, akan tetapi dia sebenarnya sedang bersujud dan
menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menghadap ke Ka’bah
perwujudan menjalankan perintahNya atau mengakui ke Maha Kuasa an
Allah Azza wa Jalla. Begitu juga para malaikat sujud kepada manusia
(Nabi Adam a.s) perwujudan melaksanakan perintahNya atau mengakui ke
Maha Kuasa an Allah Azza wa Jalla.
Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani walaupun sebagain kecil mereka beriman
kepada Allah namun tetap dimurkai oleh Allah Azza wa Jalla dan
dinyatakan sebagai orang-orang yang sesat karena mereka tidak mengakui
ke-Maha Kuasa-an Allah Azza wa Jalla dengan tidak mentaati
kewajibanNya berupa perintah untuk bersyahadat.
Sebagaimanapun amal kebaikan yang kaum non muslim lakukan, selama
mereka tidak bersyahadat maka tidak akan bermanfaat di akhirat kelak
“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka
adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari
yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat
sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia). Yang
demikian itu adalah kesesatan yang jauh”. (QS Ibrahim [14]:18 )
“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mu’min dan beramal
sholeh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan
orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan
seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka”. (QS Muhammad [47]:12 )
Wassalam
Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua, Sengaja ingin menulis
BalasHapussedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang
kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa
Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar
1M saya sters hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa
melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu
dengan KYAI SOLEH PATI, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari
saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI SOLEH PATI
kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan
penarikan uang gaib 4Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti
dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 4M yang saya
minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya
buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada.
Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya
sering menyarankan untuk menghubungi KYAI SOLEH PATI Di Tlp 0852-2589-0869
Atau Kunjungi Situs KYAI www.pesugihan-uang-gaib.blogspot.co.id/ agar di
berikan arahan. Supaya tidak langsung datang ke jawa timur, saya sendiri dulu
hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sangat baik, jika ingin seperti
saya coba hubungi KYAI SOLEH PATI pasti akan di bantu Oleh Beliau